Jumat, 10 Juni 2016

Patung Yesus Buntu BURAKE



Patung Yesus Memberkati di Tana Toraja kini menjadi Patung Yesus tertinggi di dunia mengalahkan patung Yesus Sang Penebus di Rio de Janeiro, Brasil.
Tinggi bangunan bawah atau landasan patung setinggi 17 meter dan tinggi 23 meter. Sehingga, tinggi keseluruhan patung mulai dari bangunan bawah hingga ujung atas mencapai 40 meter. Patung Yesus Kristus berukuran raksasa itu, akan berdiri kokoh di puncak Buntu Burake yang tingginya sekitar 1.100 meter dari permukaan laut (dpl).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tataruang dan Permukiman (Distarkim) Tana Toraja David Kambu menyebut patung Yesus Kristus berukuran raksasa yang dibangun di puncak Buntu (Bukit) Burake berbahan perunggu.
“Tinggi patung Yesus Kristus keseluruhan 40 meter, mulai dari bangunan bawah hingga ujung atas patung. Material patung bukan dilapisi perunggu. Tapi, mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala patung, semuanya terbuat dari coran perunggu,” ujar David Kambu, di Makale, Senin (6/4/2015).
Patung yang sudah diresmikan pada tanggal 31 Agustus 2015 kini menjadi ikon pariwisata Toraja. Keberadaan patung Yesus Memberkati berukuran raksasa di Puncak Buntu Burake itu diyakini menjadi salah satu jembatan emas kebangkitan pariwisata Toraja.
Puncak Buntu Burake tempat patung Yesus berdiri akan menjadi kawasan wisata religi yang mampu menarik kunjungan wisatawan sebanyak-banyaknya di Tana Toraja. Wisatawan yang berkunjung ke Tana Toraja punya banyak pilihan untuk berwisata.
Sebab, pariwisata Toraja tidak lagi monoton dengan wisata budaya, tetapi juga wisata alam dan religi. Apalagi, Toraja tak lama lagi memiliki bandara bertaraf internasional. Sehingga, Tana Toraja menjadi daerah tujuan wisata kedua di Indonesia, setelah Bali.
“Pembangunan patung Yesus Kristus di puncak Buntu Burake menjadi jembatan emas kembalinya kejayaan pariwisata Toraja yang sudah terkenal di dunia,” optimistis Theofilus.
Theofilus mengatakan, meski mimpi atau ide dasar pembangunan patung Yesus itu berasal dari dirinya, namun saat patung ini jadi dan diresmikan, manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh rakyat Tana Toraja. Sebab, masa jabatannya sebagai Bupati tinggal beberapa bulan lagi. Sedangkan patung Yesus setinggi 40 meter ini akan tetap ada dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Bisa puluhan, bisa pula ratusan tahun ke depan.
“Kita menanam investasi yang sangat besar di sini. Memang tidak akan langsung terasa, tetapi ke depan, saya sangat optimis, kawasan Burake ini akan memberikan dampak ekonomi yang luar biasa besar. Ini tidak akan habis, tidak seperti tambang, yang memiliki keterbatasan dan bisa habis pada saat tertentu,” ucap Theofilus.
Tana Toraja, kata Theofilus, tidak seperti Kalimantan atau Papua yang kaya akan sumber daya mineral. Untuk itu dibutuhkan ide-ide besar untuk melahirkan peluang yang menciptakan peluang kerja dan ekonomi dalam jangka panjang. Keberadaan patung Yesus Memberkati, memiliki dua manfaat. Pertama dari sisi iman dan keyakinan mayoritas masyarakat Tana Toraja. Dan yang kedua dari sisi ekonomi, dimana ikon rohani ini akan menarik banyak orang berkunjung ke Tana Toraja.
"Sebagian orang mungkin ada yang kontra dengan ide pembangunan patung ini, tetapi dalam melaksanakan sebuah ide, kita tidak mungkin memuaskan semua orang. Meski begitu, kita tetap harus jalan dengan tujuan besar,” ujar Theofilus.
Tak tanggung tanggung, anggaran yang digelontorkan untuk pembangunan patung ini sekitar Rp 30 miliar. Pemerintah setempat pun menargetkan paling sedikit 200 ribu wisatawan setiap tahun akan mengunjungi kawasan wisata rohani Buntu Burake.



                                                                                                                            

Selasa, 26 Agustus 2014

GUA MARIA SENDANG ROSARIO NGIJOREJO,

GUA MARIA SENDANG ROSARIO NGIJOREDJO, WONOSARI

Keberadaan Umat Katolik di stasi Ngijorejo tidak lepas dari tokoh perintisnya yang tak lain adalah Bapak Atmo Suparto. Dialah seorang mantan Kamitua (Sesepuh Dusun) yang dipercaya warganya sebagai sesepuh yang mempunyai daya linuwih. Bapak Atmo Suparto, setelah berkenalan dengan agama Katolik yang masuk ke dusun Ngijorejo, menjadi tertarik dan meminta di baptis. Dan di baptislah ia pada bulan Desember 1933. Peristiwa pembaptisannya membawa dampak positif bagi perkembangan umat Katolik di Ngijorejo. Sebab mereka berpikir kalau seorang Bapak Atmo Suparto saja menjadi Katolik, para pengikutnya itupun segera mengikuti jejaknya. Demikianlah umat Katolik di Ngijorejo berkembang pesat sekali hingga merambah kedusun Beji, Wera, Ngasem, Kalidukuh, Petung, Gatak dan Kalidadap. Kondisi seperti itu mengundang perhatian khusus dari Romo Paroki. Sewaktu Romo T. Widyana, SJ berkarya di Wonosari perhatian khusus itu semakin meningkat. Sehabis Misa Romo biasanya tidak langsung pulang melainkan berbincang-bincang dengan umat. Lalu Romo juga menyempatkan diri untuk mengunjungi salah seorang umat yang sedang sakit atau bermasalah, atau sedang punya hajatan. Tak heran kalau hubungan Romo dengan umatnya begitu dekat, ibarat hubungan Bapak dengan anaknya. Pada suatu saat Romo T. Widyana, SJ mengunjungi salah seorang umat yang sakit, orang itu bernama Robertus Paino Krama Taruna yang tinggal tak jauh dari kali (sungai) Mojing. Saat melintasi sungai Mojing itu Romo sangat terkesan, sebab air sungai itu sangat bersih dan jernih. Maka timbullah gagasan dalam diri Romo T. Widyana, SJ untuk membuat tempat ziarah di lokasi dekat sungai Mojing itu. Gagasan itu disampaikannya kepada Bapak Markus Karso Utomo yang menjadi katekis saat itu. Dan Bapak Markus Karso Utomo pun setuju. Lalu gagasan Romo itupun disampaikan kepada umat di wilayah Ngijorejo maupun umat Katolik di sekitarnya. Mereka pun setali tiga uang, semuanya setuju dengan gagasan Romo T. Widyana, SJ.

Langkah Awal
Setelah umat dan Romo sepakat untuk membuat tempat ziarah, langkah selanjutnya Bapak Karso Utomo menemui pemilik tanah di dekat sungai Mojing itu. Ia memohon kesediaan pemilik tanah itu untuk merelakan tanahnya digunakan sebagai tempat ziarah. Beliaupun tidak keberatan, maka rencana pembuatan tempat ziarahpun bisa segera diwujudkan.
Umatpun giat bergotong royong mencari batu untuk membuat gua agar patung Bunda Maria dapat ditempatkan didalamnya. Pembuatan gua sendiri diprakarsai oleh Bapak Herman Yoseph Suwandi yang sehari-harinya bekerja di Departemen Pekerjaan Umum, Wonosari, Yogyakarta.


Partisipasi Umat Luar Biasa
Kebutuhan pasir, kapur, semen dan lain-lain untuk pembangunan gua diperoleh dari iuran yang dihimpun oleh dan dari umat setempat dibantu oleh umat Paroki Wonosari. Umat secara bergiliran bekerja bakti membantu para tukang yang mengerjakan pembuatan gua itu. Gua Maria itu dibuat sederhana, tidak terlalu besar dan menghadap ke timur tepat dibawah pohon munggur (trembesi). Gua Maria terletak tak jauh dari sungai Mojing, secara filosofis makna sungai Mojing dan Gua Maria sama, yaitu sebagai sumber kehidupan. Bedanya sungai Mojing merupakan sumber kehidupan jasmani, sedangkan Gua Maria menjadi sumber kehidupan rohani bagi umat Katolik.

Gua Maria Sendang Rosario

Sepulang dari tugas di Roma, tepatnya pada hari peringatan Bunda Maria menampakkan diri di Lourdes, tanggal 11 Pebruari 1962 Romo T. Widyana, SJ memberkati sungai Mojing dengan air suci yang dibawa dari Lourdes. Pada saat itu pula sungai Mojing itu diubah fungsinya dan bersama dengan Gua Maria menjadi tempat ziarah Gua Maria Sendang Rosario. Sejak saat itu pula khususnya setiap bulan Mei dan Oktober Gua Maria Sendang Rosario banyak dikunjungi umat yang berziarah berdoa rosario.

GUA MARIA SENDANG RATU KENYO

GUA MARIA SENDANG RATU KENYO, WONOGIRI
                                        
Gua Maria Sendang Ratu Kenyo Wonogiri terletak di Paroki Santo Ignasius Danan, Giriwoyo, Surakarta, Jawa Tengah. Masyarakat setempat mengenal tempat ini sebagai Sendang Growong (Gua yang memiliki ruangan besar di sebelah dalamnya). Sebelum di jadikan tempat Ziarah Bunda Maria, Gua ini di kenal angker, karena di yakini sebagai tempat tinggal “ Setan Besil “. Setan itu berhasil di usir berkat doa Novena Sembilan Hari yang di lakukan oleh umat Katolik setempat yang di pimpin oleh Petrus Suhirman, seorang katekis yang tinggal di Dusun Ngampohan. Doa Rosario Sembilan Hari itu melibatkan 12 warga lain yang sudah menjadi Katolik dan calon baptis. Yang sudah di baptis menjadi Katolik adalah Petrus Suhirman, A.Y. Suratman, Y.B. Suwardi. Sisanya adalah calon baptis (Saijo, Saijan, Jaino, Maino, Sayem, Marsinah, Minem, Soni dan Sanem). Mereka berdoa selama sembilan hari berturut-turut pada jam yang sama dan dengan cara yang sama pula. Selama berdoa mereka mengenakan rosario, gambar Bunda Maria dan obor berbentuk Salib dengan lima buah sumbu yang menyala. Obor itu melambangkan penderitaan Tuhan Yesus di Kayu Salib. Gambar Bunda Maria di lukis oleh H. Sutarno pada selembar kertas padalarang.
Doa Rosario Sembilan Hari itu di mulai tanggal 22 April 1957 di rumah Petrus Suhirman di Dusun Ngampohan pada pukul 19.00 wib. Mereka berarak menuju Dhanyangan Growong dengan urutan sebagai berikut : gambar Bunda Maria, obor, para calon baptis, umat yang telah di baptis dan Petrus Suhirman sebagai pemimpin. Setibanya di Gua, mereka memanjatkan doa dengan ujud mengusir makluk halus. Para peserta juga di berikan kesempatan untuk menyampaikan doa spontan. Seusai doa, mereka kembali berarak sambil berdoa Rosario menuju kediaman Petrus Suhirman. Acara doa berakhir sekitar pukul 21.00 wib. Sejak hari pertama hingga hari keenam, tidak terjadi keanehan selama mereka berdoa. Namun pada hari ketujuh, mereka menyaksikan suatu mukjizat, ketika mereka sedang berdoa, tiba-tiba muncul bola api sebesar periuk dari dalam sebatang pohon unut yang bergerak cepat meninggalkan Dhanyangan Growong menuju kearah selatan dan barat. Seketika itu juga terdengar suara jerit tangis dan rintihan misterius berkali-kali “ aduh panase, ayo lunga “ (aduh panasnya, ayo pergi). Sejak peristiwa itu Gua tersebut menjadi tenang dan damai. Kemudian namanya di ganti menjadi Sendang Ratu Kenyo sesuai usulan Petrus Suhirman. Sendang merupakan bahasa Jawa yang berarti sumber air, yang melambangkan sumber kehidupan dan sumber rahmat Tuhan yang selalu mengalir. Rahmat Tuhan itu akan selalu di alirkan dan di salurkan oleh Ratu Kenyo (Ratu Perawan), yakni Bunda Maria. Dalam suatu perayaan Ekaristi di Gereja Stasi Danan pada bulan Juli 1957, Pastor Paroki Purbayan Surakarta Romo Purwodiharjo menyerahkan Patung mungil Bunda Maria yang terbuat dari batu untuk di tahtakan di dalam Gua Sendang Ratu Kenyo. Ukuran Gua alam itu tergolong kecil dengan ketinggian sekitar satu meter dan lebar kurang dari satu meter. Sejak saat itu, Gua Maria Sendang Ratu Kenyo menjadi tempat ziarah bagi umat setempat, terutama pada bulan Mei dan Oktober. Pada tahun 1958, Gua ini di renovasi karena di nilai terlalu sempit untuk Patung Bunda Maria. Sebagai gantinya, dibikin Gua baru yang juga berukuran kecil. Namun umat tidak pernah puas dengan ukuran dan berbentuk Gua itu. Sebab itu pada tahun 1960, Gua itu di bongkar dan di ganti dengan Gua baru yang lebih besar dan indah. Pembangunan Gua baru ini melibatkan satu panitia khusus yang di pimpin oleh Ig. Suratno dan di dampingi oleh Y. Suwarno, H. Sutarmo, Ratno Siswoyo,      Ig. Noto Rahardjo dan Ag. Siswo Admojo. Sementara itu Y. Suwarno membuat patung Bunda Maria dari batu yang di pahat setinggi satu meter. Namun seiring dengan perjalanan waktu, Gua ini kurang terawat dan tertimbun oleh erosi tanah. Kondisinya kembali membaik setelah Romo J. Stormmesand, SJ menjabat sebagai Pastor Paroki Santo Yusuf Baturetno sejak tahun 1980 – 1984. Ia mengajak umat berziarah ke Gua itu terutama pada bulan Mei dan Oktober. Pastor ini juga mentradisikan perayaan Ekaristi pada pembukaan dan penutupan Bulan Maria dan Bulan Rosario. Tidak hanya itu, Romo ini juga berinisiatif untuk merenovasi penampilan Gua itu dan memperluas lokasinya. Dia juga menugaskan             M. Haryanto untuk membuat patung Yesus yang tersalib seukuran orang dewasa dari semen. Patung kemudian di tempatkan di lereng bukit, tepatnya di sebelah timur Gua Maria.
Namun, rupanya para peziarah yang berkunjung ke Gua Maria Sendang Ratu Kenyo belum juga puas dengan renovasi itu. Pada bulan April 1996, Kelompok Pelayanan Kasih Hati Ibu yang Bahagia yang berpusat di Cimahi, melakukan aksi sosial di Desa Bopto, Baturetno dan mereka berkunjung ke Gua Maria Sendang Ratu Kenyo ini. Pada tanggal 27 April 1996, dalam doa bersama yang dihadiri sekitar 1.500 umat, Pemimpin Kelompok Doa tersebut Ibu Agnes Suwarno, konon mendapat pesan istimewa dari Bunda Maria : “ Aku perintahkan kepadamu anak-anakku dari Kelompok Pelayanan Kasih Hati Ibu yang Bahagia untuk bekerja sama dengan Imammu memperindah tempat doa yang aku berikan ini “.

Pemugaran Gua ini rampung pada September 1997, tinggi bangunan Gua 8 meter, panjang 30 meter, tinggi mulut Gua kira-kira 3 meter dan lebarnya 2 meter. Patung Bunda Maria seukuran orang dewasa di letakkan di dalam Gua. Luas lokasi ziarah ini sekarang mencapai 15.000 m2. Gua Maria Sendang Ratu Kenyo yang baru ini di resmikan pada tanggal           30 September 1997 oleh Mgr Isaac Dura selaku pembimbing rohani Kelompok Pelayanan Kasih Hati Ibu Yang Bahagia, Gua ini di lengkapi dengan Kapel, Stasi-Stasi Jalan Salib, tempat penampungan para peziarah dan sumur air.

GUA MARIA TRITIS

GUA MARIA TRITIS, WONOSARI

Gua Maria Tritis Wonosari merupakan Gua Alam yang memiliki stalaktit dan stalakmit nan menawan. (Tritis merupakan salah satu kata dalam bahasa Jawa yang berarti tetesan air ; dan air itu menetes dari stalaktit. Air itu kemudian ditampung untuk digunakan sebagai obat), letaknya yang jauh dari perkampungan penduduk membuat Gua ini terkesan “ angker “ dan  “ sunyi “. Gua tersebut berada di pantai selatan Jawa, dekat Samudera India. Kondisi Gua masih sangat alamiah.
Penemuan Gua ini bermula dari permintaan Romo Al Hardjasudarma, SJ ; Pastor Paroki St Petrus Kanisus Wonosari, kepada beberapa anak sekolah di SDK Sanjaya Giring (Stasi Singkil), sekitar 3 km sebelah Gua Maria Tritis untuk membuat Gua tiruan menjelang Misa Natal pada tanggal 25 Desember 1975. Kemudian salah seorang dari anak-anak itu memberitahu pastor itu tentang Gua alam yang indah yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Inilah permulaan dari pembangunan Gua Maria Tritis, Wonosari. Suasana di sekitar Gua Maria Tritis sangat hening. Keheningan itu sangat terasa pada saat melakukan prosesi jalan salib karena menelusuri jalan-jalan sunyi dan lengang. Stasi-stasi berada diantara semak-semak, dulu lokasi ini dinilai angker oleh penduduk setempat sehingga jarang dilewati. Lokasi jalan salib terletak di Dusun Bulu, Desa Giring, Kecamatan Paliyan. Pada musim kemarau daerah ini tampak kering kerontang, namun menjadi sangat rimbun dan teduh pada musim hujan.
Sejak pembangunan Gua Maria Tritis, tempat ini ramai dikunjungi umat, apalagi selama bulan Mei dan Oktober. Para peziarah umumnya tiba pada saat yang bersamaan waktunya, sekitar pukul 09.00 di terminal Wonosari dan tiba di Gua sekitar pukul 11.00. Kemudian mereka meninggalkan Gua sekitar pukul 13.00 dan langsung menuju tempat rekreasi pantai selatan seperti Pantai Baron, Kukup, Krakal, Sundak dan lain-lain. Gereja Paroki Wonosari menyediakan pelayanan perayaan Ekaristi bagi para peziarah.

GUNUNG GROWONG ITU MENJADI GUA MARIA TRITIS
Pada tahun 1975 Romo Hardjosudarmo, SJ bertugas di Paroki Wonosari, beliau juga membina para murid SD Sanjaya di Dusun Pengos, Kelurahan Giring, Kecamatan Paliyan. Pada tanggal 25 Desember 1975 itu beliau bersama para murid SD Sanjaya merayakan Misa Natal di Gedung SD Sanjaya karena waktu itu di lingkungan SD Sanjaya belum mempunyai Kapel. Setiap akan diadakan Misa Natal Romo membuat “ Gua “ dari kertas, melihat hal itu ada seorang murid berkata kepada Romo : “ Romo tidak usah membuat Gua dari kertas karena di tempat saya ada Gua asli “. Lalu Romo pun bertanya, “ Gua asli bagaimana ? “. Murid itu hanya menjawab, “ Gunung itu growong artinya berlobang besar “.
Maka pada suatu hari Romo dihantar oleh muridnya itu ke gunung growong itu. Sampai di dalam Gua, Romo kagum dengan keindahan alam yang baru pertama kali di jumpainya, sehingga Romo berniat menjadikan Gua tersebut sebagai tempat berdoa bagi umat Katolik.
Tak lama setelah peristiwa itu Romo menemui Bapak R. Radio Sutirto, Kepala Desa Giring. Tujuannya adalah untuk meminta izin agar Gua Tritis itu boleh di pergunakan untuk berdoa bagi umat Katolik. “ Pak, bagaimana kalau Gua Tritis itu saya jadikan tempat sembayang bagi umat Katolik ? “. Apakah di perkenankan atau tidak ? “. Tanpa menunggu keesokan harinya Bapak Kepala Desa itu menyetujui permintaan Romo Hardjosudarmo, SJ itu.
Berkat dukungan dan kerjasama masyarakat Dusun Bulu jalan menuju ke Gua dalam waktu kurang lebih dari satu bulan sudah dapat di lewati walaupun waktu itu keadaannya belumlah sempurna seperti sekarang. Dan padat tahun 1979 Gua Maria Tritis di resmikan oleh Romo Lamers, SJ dengan memasang Patung Bunda Maria. Sejak saat itu tempat itu di namai Gua Maria Tritis.

Gua nya Alami dan sangat BESAR






CANDI HATI KUDUS YESUS

CANDI HATI KUDUS YESUS, GANJURAN




Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran terletak 17 km dari Yogyakarta ke arah selatan. Umatnya berjumlah sekitar 7.000 orang, tersebar di 27 wilayah, sebagian besar adalah kaum petani, selebihnya adalah guru, pedagang, dan buruh. Kompleks gereja dibangun di atas tanah seluas kurang lebih 2,5 hektar, terdiri atas gereja induk, pastoran dan ruang pertemuan, bangunan candi dan pelatarannya, halaman pakir dan makam.
Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran didirikan oleh Schumutzers pada tanggal 16 April 1924. Gereja ini dibangun sebagai ucapan syukur atas berkat melimpah yang diterima oleh keluarga Schumutzer dan seluruh karyawan Pabrik Gula Gondong Lipuro di Ganjuran. Berkat itu berupa terlepasnya pabrik dari krisis berkepanjangan, keuntungan melimpah, dan kemakmuran para karyawannya serta masyarakat di sekitarnya. Selain kedua bangunan itu, dibangun juga 12 sekolah rakyat, simbol 12 rasul yang diutus Tuhan Yesus. Sebagian dari sekolah tersebut masih aktif hingga saat ini, dan di kelola oleh Yayasan Kanisius.
Schumutzer bercita-cita membuat masyarakat Ganjuran dan sekitarnya makmur dengan mendirikan sekolah, rumah sakit dan menjadikan buruh sebagai mitra kerja. Semuanya itu dilaksanakan dengan menimba semangat Hati Kudus Yesus.  Spiritualitas itulah yang diwarisi Gereja Ganjuran.
Hingga saat ini setiap tahun di gereja ini diselenggarakan Misa Syukur Agung yang disebut Proses atau Kirab Agung Sakramen Maha Kudus yang menjadi puncak kehidupan spiritual umat Katholik Ganjuran. Upacara ini dihadiri umat dari berbagai daerah.

CORAK JAWA HINDU
Sejak didirikan gereja Ganjuran mengembangkan spiritualitas Hati Kudus Yesus dan tradisi Jawa dengan tetap mengikuti nilai-nilai budaya yang semakin berkembang.
Arsitekturnya diadopsi dari corak Jawa Hindu, termasuk tata cara merayakan liturgi. Patung Hati Kudus Yesus dan Kristus Raja ditempatkan di atas tahta di dalam candi yang menjadi simbol perdamaian dan keadilan Allah di bumi ini. Di Gereja ini khotbah di lakukan dalam bahasa Jawa dan para petugas gereja mengenakan pakaian tradisional Jawa.

Ada beberapa upacara ritual yang memiliki makna simbolis di Gereja Hati Kudus Yesus di Ganjuran ini, yaitu :
-      Candi-candi merupakan bangunan monumental yang tidak pernah lekang oleh perjalanan waktu. Candi menjadi monumen Hati Kudus Yesus yang melimpahkan berkat, menjaga dan mengutus umatnya hingga akhir zaman. Dalam bangunan candi yang menjadi simbol keabadian ini, di tahtakan arca Kristus Raja dalam busana kebesaran Raja Jawa, dengan tanganNya menunjuk Hati Kudus Yesus yang menyala.
-      Air Candi Ganjuran (Tirta Perwitasari) terletak persis di bawah Candi Hati Kudus Yesus. Mata air ini ditemukan ketika Gereja  Ganjuran sedang kesulitan untuk mendapatkan sumber air yang baik. Keberadaan air itu dihayati sebagai wujud nyata dari kebesaran Hati Kudus Yesus.

-      Gunungan, dalam ritus ini umat mempersembahkan sebagian dari hasil bumi yang terbaik kepada Hati Kudus Yesus, kemudian, bahan-bahan persembahan itu dibagikan kepada sesama yang miskin dan lapar selaras dengan semangat Hati Kudus Yesus.






GUA MARIA GUNUNG SEMPUH

SALIB SUCI GUNUNG SEMPU, YOGYAKARTA


Salib Suci Gunung Sempu berada di komplek Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran Bantul, Yogyakarta. Letaknya sekitar 3 kilometer dari halaman depan gereja tersebut. Salib tersebut berada di sebuah bangunan berbentuk joglo dengan pendopo terbuka tanpa pagar pembatas. Gedung ini diberkati oleh Uskup Agung Semarang Julius Darmaatmadja SJ pada tanggal 20 Mei 1990. Di bawah Salib itu terdapat patung Pieta (Bunda Berduka Cita).
Sebelum masuk ke tempat doa Salib Suci dan Gereja, peziarah di hadang sumur Yakob. Sumur tersebut berbentuk oval dengan kedalaman 33 meter. Sumur itu sengaja digali di tempat itu agar umat mengambil sendiri air itu agar digunakan untuk membersihkan diri sebelum menghadap hadirat Tuhan.  Tetapi sebelum membersihkan diri dengan air sumur Yakob itu, peziarah diajak untuk membangun sikap tobat dengan mengikuti prosesi jalan Salib.  Setelah menyelami makna penderitaan Kristus melalui renungan jalan Salib, peziarah bersembah sujud di kaki Salib Suci.  Di tempat ini, ujub-ujub doa yang di tulis pada potongan-potongan kertas di bakar pada sebuah tungku api yang telah tersedia.

Sesuai kegiatan doa di gedung Salib Suci, peziarah berarak menuju sumur Yakob sambil menikmati keindahan Kota Yogyakarta dari kejauhan. Mereka bisa membawa pulang air sumur Yakob sebagai pengikat janji tobat. Karena keelokan dan keheningannya, tempat ziarah Salib Suci Gunung Sempu disebut juga sebagai Bukit Golgota nya Yogyakarta. Ziarah Salib Suci Gunung Sempu merupakan satu-satunya di Indonesia.

di Bumi Hanya ada satu Wanita yang terpuji 

Senin, 25 Agustus 2014

GUA MARIA AIR SANIH

GOA MARIA AIR SANIH (GOMAS)
          Wisata rohani dapat menjadi salah satu alternatif mengisi libur panjang anak sekolah. Sebuah lokasi wisata rohani di Singaraja Bali adalah Gua Maria Air Sanih.Gua Maria ini ada di utara Pulau Dewata yang berjarak sekitar 130 kilometer atau 2,5 jam dari kota Denpasar. Gua berdiri di atas lahan seluas tiga hektar.
Sejarah atau riwayat pembangunan Gua Maria Air Sanih bermula dari gagasan Romo Willy M. Batuah, CDD. Hampir setiap tahun Romo Willy dan anak-anak asrama Kolese Santo Yusup Malang mengadakan rekreasi.
Dari banyak tempat yang dikunjungi Romo Willy, beliau menilai hanya Air Sanih lah yang memiliki keistimewaan dan daya tarik baginya, sampai muncul impian untuk mempunyai karya di Air Sanih. Meskipun impian ini dia pendam sendiri rapat-rapat.
          Pada pertengahan tahun 1991, Romo Willy mulai mewujudkan untuk berkarya di Air Sanih dengan membeli sebidang tanah seluas 3 hektar,yang letaknya sekitar 1,7 kilometer dari obyek wisata Pemandian Air Sanih.
Pemandian Air Sanih terbilang unik karena merupakan sumber air tawar di tepi pantai dengan debit yang besar.
Limpahan airnya membentuk sungai kecil yang langsung mengalir ke laut. Air Sanih berarti air bening.
          Pembangunan pun berjalan lambat karena Romo Willy ingin berkenalan terlebih dahulu dengan masyarakat dan budaya sekitar. Setelah masyarakat kenal dan mengetahui secara benar maksud dan tujuan Romo Willy, barulah irama pembangunan Gua Maria ditingkatkan.
Sehubungan wilayah tersebut adalah wilayah Air Sanih dan arti kata Air Sanih cukup baik, maka Gua Maria ini disebut Gua Maria Air Sanih.
Dalam perjalanan timbul pemikiran untuk membangun Gua Maria, jalan salib, lokasi camping, kegiatan di alam terbuka dan menghijaukannya dengan tanaman-tanaman keras dan lunak, sehingga bisa dijadikan tempat ziarah dan rekreasi (ziarek).
          Akhirnya pada tanggal 23 Oktober 2005 Gua Maria Air Sanih diberkati oleh Mgr. DR. Benyamin Yosef Bria, Pr, yang sebelumnya Romo Yandhie B. Gunawan, CDD sumber air Gua Maria Air Sanih.

Suasana di sekitar Gua Maria sangat sejuk karena terdapat hamparan hutan buatan. Dalam suasana yang tenang para pelancong bisa menapaki jalan salib memperingati kisah sengsara Yesus Kristus melalui jalan setapak di kebun buah-buahan langka.